BAB
IS
PENDAHULUAN
1.
Latar Belakang
Islam
adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang menerima wahyu dari Allah
SWT. Agama Islam mewajibkan kita untuk
menuntut Ilmu dan dituntuk untuk
mengasah otak. Islam juga menganjurkan untuk menjaga kebudayaan. Banyak
kebudayaan yang dimiliki di Indonesia. Terutama di pulau Jawa banyak budaya
yang dimiliki, salah satunya adalah sastra.
Sejarah sastra Jawa dimulai sejak ditemukanya prasasti yang berada di
daerah SukaBumi. Banyak aspek Islam dalam sastra Jawa yang dapat tidak
disebutkan satu persatu. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam yang secara
geografis berkembang di Arab pada permulaanya, ternyata memiliki kemampuan
untuk menampilkan diri dalam bentuk yang amat beragam sesuai dengan bentuk
keragaman kebudayaan yang di datanginya.
Pada kesempatan kali ini ,makalah akan membahas tentang bagaimana
interelasi Islam dan sastra Jawa yang ada di Demak.
2.
Rumusan Masalah
1. Apa
pengertian dari sastra ?
2. Bagaimana
keterkaitan Islam dengan sastra Jawa ?
3. Bagaimana
interelasi Islam dengan sastra Jawa di Demak ?
3.
Tujuan Rumusan
Masalah
1. Untuk
mengetahui apa itu imterelasi.
2. Untuk
mengetahui apa itu sastra Jawa.
3. Untuk
mengetahui bagaimana keterkaitan Islam dan sastra jawa.
4. Untuk
mengetahui bagaimana interelasi Islam dengan sastra Jawa.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
sastra
Teeuw ( 1984 : 23 )
mengemukakan bahwa kata “ sastra “ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa
Sansekerta. Istilah sastra dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah literature
( latin = litere ) yang menunjuk pada karya tulisan atau karya tulis
yang dicetak ( sebenarnya juga termasuk karya sastra yang tidak hanya tertulis
tetapi juga yang tidak tertulis / lisan ).
Sebagai bahan dasar
sastra ( kusastraan ) adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kesusatraan
memang berbeda dengan bahasa keilmuan maupunbahasa yang digunakan sehari-hari.
Rene Wellek & Austin Warren ( 1993 : 15-17 ) mengemukakan bahwa bahasa
sastra mempunyai fungsi ekspresif, menunjukan pada nada ( tone ) dan sikap
pembicara atau penulisanya. Bahasa satra
berusaha mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya ( berusaha ) mengubah sikap
pembaca. Hal yang penting dalam bahasa satra adalah tanda, simbolisme suara
dari kata-katanya. Dalam bahasa sastra, sarana-sarana bahasa dimanfaatkan
secara lebih sistematik dan dengan sengaja.[1]
Atmazaki ( 1990 : 28-29 ) mengemukakan
bahwa jenis-jenis karya sastra meliputi, karya sastra yang berbentuk prosa ,
karya sastra yang berbentuk puisi, dan karya sastra yang berbentuk drama.[2]
Jawa memiliki banyak
karya sastra yang diciptakan oleh tokoh-tokoh Jawa. Ada salah satu karya sastra
Jawa yang di sita dan dilarang keras untuk diedarkan, yaitu sastra “ roman
pcisan “. Roman picisan dilarang keras untuk beredar karena jenis kertas yang
digunakan bermutu rendah dan kualitas cetakan atau terbitanya terkesan ala
kadarnya, kalau tidak disebut asal-asalan, asal bisa diterbitkan dan bisa
dibaca, persoalan intrinsik juga menjadi permasalahan.
Selain itu , pemuatan gambar sampul yang
seronok dan yang terutama adalah kecenderungan tematik yang mengeksploitasi
cinta mengindikasikan sastra yang bersifat erotis dengan di bungkus dengan
pesan-pesan moral dan kadang-kadang
disisipi berbagai propaganda terselubung.[3]
B. Keterkaitan
Islam dengan karya Sastra Jawa
Islam mewarnai dan
menjiwai karya-karya sastra Jawa baru. Sedangkan puisi ( tembang /sekar macapat
) dipakai untuk sarana memberikan berbagai petunjuk/ nasihat yang secara
substansial merupakan petujuk / nasihat yang bersumber pada ajaran Islam. Hal
ini terjadi karena para pujangga tersebut jelas beragama Islam.
Puisi Jawa baru (
tembang /sekar macapat ) ini berbarengan dengan munculnya Islam dijawa , yaitu
setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang Hindu. Tembang-tembang macapat yang
merupakan puisi Jawa baru yang terungkap dalam karya sastra, oleh para pujangga
dipakai untuk menyampaikan berbagai ide
mereka . tembang macapat memiliki sifat –sifat ekspresif –imajinatif ,
konotatif dan terjelma dalam struktur fisik/ batin secara terpadu. sifat yang
demikian merupakan persyaratan sebuah puisi yang memiliki nilai sastra yang
berkualiualitas.
Maksud
dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan
yang bersifat imperatife moral. Artinya keterkaitan itu menunjukan warna keseluruhan / corak yang
mendominasi karya-karya sastra Jawa baru antara lain masalah jihad, masalah
ketauhitan, masalah moral dan perilaku yang baik dan sebagainya. Dengan kata
lain Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra. Istilah Interelasi Islam
di Jawakan sedangkan Jawa di Islamkan. Walaupun demikian, warna Islam terlihat
sekali dalam subtansinya, yaitu :
1. Unsure
ketauhidan ( upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa )
2. Unsure
kebajikan ( upaya memberikan petunjuk / nasihat kepada siapapun ( petunjuk agar
berbuat kebajikan dan petunjuk untuk
tidak berbuat tercela)[4]
C. Interelasi
Islam dengan sastra Jawa di Demak
Berdirinya
kesultanan Demakyang mendapat dukungan guru-guru agama yang mereka hormati
sebagai wali Allah, memegang peranan penting bagi pertumbuhan sastra kejawen yang
menyerap unsur-unsur Islam. Demak yang berdiri pada abad 16 Masehi menjadi
titik mula persentuhan dan interaksi antara sastra budaya Jawa keraton dengan
agama dan unsure-unsur Islam.
Purbatjaraka dalam bukunya kepustakaan
Djawa menyebutkan bahwa masa itu para cendikiawan kejawen mulai berkenalan dan menyadap unsur-unsur
keIslaman dalam upaya meningkatkan karya-karya mereka . Diantara naskah jawa
yang dijiwai ajaran tasawuf pesantren yang masih bisa diselamatkan oleh
pelayaran bangsa belanda, yang dinamakan Het Boek van Bonang
dalam bentuk prosa dan ditulis oleh sastrawan
Jawa yang menjadi murid sang wali. Naskah-naskah yang digubah kemudian
kabanyakan dalam bentuk sekar ( puisi ) macapat, isinya banyak mengungkapkan
konsep-konsep ajaran martabat tujuh, suatu tasawuf yang pada dasarnya berpaham
pantheistis dari pengembangan Ibnu Arabi. [5]
Pada periode ini sunan
Bonang dengan karyanya suluk wijil, sunan panggung dengan karyanya
malangsumirang dan pangeran karangayam dengan karyanya nitisruti.
BAB III
Kesimpulan
kata “ sastra “ dalam
bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah sastra dalam bahasa
Inggris dikenal dengan istilah literature ( latin = litere ) yang
menunjuk pada karya tulisan atau karya tulis yang dicetak ( sebenarnya juga
termasuk karya sastra yang tidak hanya tertulis tetapi juga yang tidak tertulis
/ lisan ).
keterkaitan antara
Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat
imperatife moral. Artinya keterkaitan
itu menunjukan warna keseluruhan / corak yang mendominasi karya-karya
sastra Jawa baru antara lain masalah jihad,masalah ketauhitan, masalah moral
dan perilaku yang baik dan sebagainya. Diantara sastra jawa yang dijiwai ajaran
tasawuf pesantren yang masih bisa diselamatkan oleh pelayaran bangsa belanda,
yang dinamakan Het Boek van Bong dalam bentuk prosa dan ditulis
oleh sastrawan Jawa yang menjadi murid
sang wali.
DAFTAR
PUSTAKA
Amin ,Darori, Islam
& Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000
Pradopo ,Rachmat Djoko, Eskapisme Sastra
Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2002
Simuh, Sufisme Jawa ,
Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995
[1] Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa, Gama
Media, Yogyakarta, 2000 H. 140
[2] Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa.
H. 142
[3] Rachmat Djoko Pradopo,
Eskapisme Sastra Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2002,H. 5
[4] Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa.
H 147-148
[5] Simuh, Sufisme Jawa , Yayasan Bentang
Budaya, Yogyakarta, 1995,H. 19-20