Rabu, 05 Oktober 2016

Interelasi Islam Budaya Jawa dalam Bidang Sastra

BAB IS
PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Islam adalah agama yang dibawa oleh Rasulullah SAW yang menerima wahyu dari Allah SWT.  Agama Islam mewajibkan kita untuk menuntut Ilmu  dan dituntuk untuk mengasah otak. Islam juga menganjurkan untuk menjaga kebudayaan. Banyak kebudayaan yang dimiliki di Indonesia. Terutama di pulau Jawa banyak budaya yang dimiliki, salah satunya adalah sastra.  Sejarah sastra Jawa dimulai sejak ditemukanya prasasti yang berada di daerah SukaBumi. Banyak aspek Islam dalam sastra Jawa yang dapat tidak disebutkan satu persatu. Hal ini memperlihatkan bahwa Islam yang secara geografis berkembang di Arab pada permulaanya, ternyata memiliki kemampuan untuk menampilkan diri dalam bentuk yang amat beragam sesuai dengan bentuk keragaman kebudayaan yang di datanginya.  Pada kesempatan kali ini ,makalah akan membahas tentang bagaimana interelasi Islam dan sastra Jawa yang ada di Demak.
2.      Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian dari sastra ?
2.      Bagaimana keterkaitan Islam dengan sastra Jawa ?
3.      Bagaimana interelasi Islam dengan sastra Jawa di Demak ?
3.      Tujuan Rumusan Masalah
1.      Untuk mengetahui apa itu imterelasi.
2.      Untuk mengetahui apa itu sastra Jawa.
3.      Untuk mengetahui bagaimana keterkaitan Islam dan sastra jawa.
4.      Untuk mengetahui bagaimana interelasi Islam dengan sastra Jawa.







BAB II
PEMBAHASAN
A.    Pengertian sastra
Teeuw ( 1984 : 23 ) mengemukakan bahwa kata “ sastra “ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah sastra dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah literature ( latin = litere ) yang menunjuk pada karya tulisan atau karya tulis yang dicetak ( sebenarnya juga termasuk karya sastra yang tidak hanya tertulis tetapi juga yang tidak tertulis / lisan ).
Sebagai bahan dasar sastra ( kusastraan ) adalah bahasa. Bahasa yang digunakan dalam kesusatraan memang berbeda dengan bahasa keilmuan maupunbahasa yang digunakan sehari-hari. Rene Wellek & Austin Warren ( 1993 : 15-17 ) mengemukakan bahwa bahasa sastra mempunyai fungsi ekspresif, menunjukan pada nada ( tone ) dan sikap pembicara atau penulisanya.  Bahasa satra berusaha mempengaruhi, membujuk dan pada akhirnya ( berusaha ) mengubah sikap pembaca. Hal yang penting dalam bahasa satra adalah tanda, simbolisme suara dari kata-katanya. Dalam bahasa sastra, sarana-sarana bahasa dimanfaatkan secara lebih sistematik dan dengan sengaja.[1] 
Atmazaki ( 1990 : 28-29 ) mengemukakan bahwa jenis-jenis karya sastra meliputi, karya sastra yang berbentuk prosa , karya sastra yang berbentuk puisi, dan karya sastra yang berbentuk drama.[2]
Jawa memiliki banyak karya sastra yang diciptakan oleh tokoh-tokoh Jawa. Ada salah satu karya sastra Jawa yang di sita dan dilarang keras untuk diedarkan, yaitu sastra “ roman pcisan “. Roman picisan dilarang keras untuk beredar karena jenis kertas yang digunakan bermutu rendah dan kualitas cetakan atau terbitanya terkesan ala kadarnya, kalau tidak disebut asal-asalan, asal bisa diterbitkan dan bisa dibaca, persoalan intrinsik juga menjadi permasalahan.
Selain itu , pemuatan gambar sampul yang seronok dan yang terutama adalah kecenderungan tematik yang mengeksploitasi cinta mengindikasikan sastra yang bersifat erotis dengan di bungkus dengan pesan-pesan moral  dan kadang-kadang disisipi berbagai propaganda terselubung.[3]
B.     Keterkaitan Islam dengan karya Sastra Jawa
Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra Jawa baru. Sedangkan puisi ( tembang /sekar macapat ) dipakai untuk sarana memberikan berbagai petunjuk/ nasihat yang secara substansial merupakan petujuk / nasihat yang bersumber pada ajaran Islam. Hal ini terjadi karena para pujangga tersebut jelas beragama Islam.
Puisi Jawa baru ( tembang /sekar macapat ) ini berbarengan dengan munculnya Islam dijawa , yaitu setelah kejatuhan kerajaan Majapahit yang Hindu. Tembang-tembang macapat yang merupakan puisi Jawa baru yang terungkap dalam karya sastra, oleh para pujangga dipakai untuk  menyampaikan berbagai ide mereka . tembang macapat memiliki sifat –sifat ekspresif –imajinatif , konotatif dan terjelma dalam struktur fisik/ batin secara terpadu. sifat yang demikian merupakan persyaratan sebuah puisi yang memiliki nilai sastra yang berkualiualitas.
  Maksud dari keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperatife moral. Artinya keterkaitan  itu menunjukan warna keseluruhan / corak yang mendominasi karya-karya sastra Jawa baru antara lain masalah jihad, masalah ketauhitan, masalah moral dan perilaku yang baik dan sebagainya. Dengan kata lain Islam mewarnai dan menjiwai karya-karya sastra. Istilah Interelasi Islam di Jawakan sedangkan Jawa di Islamkan. Walaupun demikian, warna Islam terlihat sekali dalam subtansinya, yaitu :
1.      Unsure ketauhidan ( upaya mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Kuasa )
2.      Unsure kebajikan ( upaya memberikan petunjuk / nasihat kepada siapapun ( petunjuk agar berbuat kebajikan  dan petunjuk untuk tidak berbuat tercela)[4]
C.     Interelasi Islam dengan sastra Jawa di Demak
      Berdirinya kesultanan Demakyang mendapat dukungan guru-guru agama yang mereka hormati sebagai wali Allah, memegang peranan penting bagi pertumbuhan sastra kejawen yang menyerap unsur-unsur Islam. Demak yang berdiri pada abad 16 Masehi menjadi titik mula persentuhan dan interaksi antara sastra budaya Jawa keraton dengan agama  dan unsure-unsur Islam. Purbatjaraka  dalam bukunya kepustakaan Djawa menyebutkan bahwa masa itu para cendikiawan kejawen  mulai berkenalan dan menyadap unsur-unsur keIslaman dalam upaya meningkatkan karya-karya mereka . Diantara naskah jawa yang dijiwai ajaran tasawuf pesantren yang masih bisa diselamatkan oleh pelayaran bangsa belanda, yang dinamakan Het Boek van Bonang dalam bentuk prosa dan ditulis oleh sastrawan  Jawa yang menjadi murid sang wali. Naskah-naskah yang digubah kemudian kabanyakan dalam bentuk sekar ( puisi ) macapat, isinya banyak mengungkapkan konsep-konsep ajaran martabat tujuh, suatu tasawuf yang pada dasarnya berpaham pantheistis dari pengembangan Ibnu Arabi. [5]
Pada periode ini sunan Bonang dengan karyanya suluk wijil, sunan panggung dengan karyanya malangsumirang dan pangeran karangayam dengan karyanya nitisruti.











BAB III
Kesimpulan

kata “ sastra “ dalam bahasa Indonesia berasal dari bahasa Sansekerta. Istilah sastra dalam bahasa Inggris dikenal dengan istilah literature ( latin = litere ) yang menunjuk pada karya tulisan atau karya tulis yang dicetak ( sebenarnya juga termasuk karya sastra yang tidak hanya tertulis tetapi juga yang tidak tertulis / lisan ).
keterkaitan antara Islam dengan karya-karya sastra Jawa adalah keterkaitan yang bersifat imperatife moral. Artinya keterkaitan  itu menunjukan warna keseluruhan / corak yang mendominasi karya-karya sastra Jawa baru antara lain masalah jihad,masalah ketauhitan, masalah moral dan perilaku yang baik dan sebagainya. Diantara sastra jawa yang dijiwai ajaran tasawuf pesantren yang masih bisa diselamatkan oleh pelayaran bangsa belanda, yang dinamakan Het Boek van Bong dalam bentuk prosa dan ditulis oleh sastrawan  Jawa yang menjadi murid sang wali.

DAFTAR PUSTAKA
Amin ,Darori, Islam & Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000
Pradopo ,Rachmat Djoko, Eskapisme Sastra Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2002
Simuh, Sufisme Jawa , Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995



[1]  Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2000  H. 140
[2]  Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa. H. 142
[3] Rachmat Djoko Pradopo, Eskapisme Sastra Jawa, Gama Media, Yogyakarta, 2002,H. 5
[4]  Darori Amin, Islam & Kebudayaan Jawa. H 147-148
[5]  Simuh, Sufisme Jawa , Yayasan Bentang Budaya, Yogyakarta, 1995,H. 19-20